YSEALI Story: Pembuktian (Part 1)
Niat untuk nulis cerita ini sebenarnya
sudah cukup lama, sejak awal-awal pengumuman keterima program
YSEALI Academic Fellowship bulan Juli lalu. Sekarang, setelah
hampir dua minggu kembali ke Indonesia, niat untuk menulis pengalaman ini
masih terus menguap di udara dan tidak pernah tersentuh lagi. Sekarang mau coba share. Bismillah.
Well, saya rasa tidak ada salahnya berbagi disini, at least for myself as reflection what I did and learned from this program, and who know it would be beneficial for future applicants yang tertarik daftar program ini.
Well, saya rasa tidak ada salahnya berbagi disini, at least for myself as reflection what I did and learned from this program, and who know it would be beneficial for future applicants yang tertarik daftar program ini.
Sebelum lebih jauh, bagi teman-teman
yang belum pernah tau apa itu YSEALI, bisa cek dan baca-baca disini dulu.
Singkatnya YSEALI (Young Southeast Leaders Initiative) ini adalah program yang
disponsori oleh US State Department untuk anak-anak muda umur 18-35 tahun yang
tertarik untuk belajar salah satu dari empat tema: Civic Engagement,
Sustainable Development, Education, and Economic Growth di Amerika Serikat,
mengenal history dan culture negara lain dan juga networking opportunity dengan
teman-teman lain dari ASEAN countries.
Cerita awal kenal dengan YSEALI
sebenarnya waktu masih jadi mahasiswa di semester 5 kalau tidak salah,
saat itu masih semangat-semangatnya ikutan kegiatan ekstrakurikuler dalam dan
luar kampus. Saat dapat email pertama kali, saya langsung coba daftar, agak
nekat juga sebenarnya dengan pengalaman sangat minim, mahasiswa cupu dari
sebuah kampus yang tidak begitu dikenal dibanding beberapa kampus tetangga diJatinangor waktu itu. Karena programnya yang fully-funded dan di US, waktu itu
saya pikir tidak ada salahnya untuk dicoba. Saat itulah pertama kalinya saya
mencoba daftar YSEALI Academic Fellowship Fall 2015 dengan tema Social
Entrepreneurship. Tema ini saya pilih karena yang cukup dekat dengan konsep koperasi
yang dipelajari di kampus. Pada saat itu form aplikasinya masih pakai Microsoft
word dan harus melampirkan scanned recommendation letter dari dosen, dekan atau
rector. Percobaan pertama ini hasilnya sudah bisa ditebak: aplikasi saya tidak
lolos administrasi karena tidak lengkap (tidak ada surat rekomendasi)
Karena pendaftarannya yang dibuka dua kali
setahun, jadi waktu itu untuk kedua kalinya say coba daftar lagi. Belajar dari
kesalahan sebelumnya, kali ini alhamdulillah saya akhirnya mendapatkan surat
rekomendasi dari salah satu dosen di kampus yang saat itu juga menjabat sebagai
wakil rektor sekaligus bos saya di koperasi mahasiswa dan juga essay yang lebih
serius bikinnya. Ternyata hasilnya cukup menegangkan: saya mendapatkan email berisi
undangan skype interview dengan perwakilan US Embassy Jakarta! Akhirnya, singkat
cerita, saya pun menjalani interview dan menjawab semampu saya dengan English
yang masih terbata-bata (waktu itu score TOEFL Prediction saya di angka 400an) dan
hasilnya? Alhamdulillah, ditolak.
![]() |
YSEALI Rejection Email (1) |
Hari-hari berlalu, rasa sakit karena
email penolakan itu sudah mulai menghilang dan terlupakan. Sampai awal tahun
2016, email newsletter dari tim YSEALI mengabarkan kalau aplikasi untuk Fall
2016 sudah dibuka (anyway, kita akan terus dapat informasi terkini kalau daftar
newsletter di websitenya), sebenarnya waktu itu mau nyerah aja karena mikirnya program
ini prestigious nya luar biasa dan saingannya ketat dari seluruh pemuda terbaik
di Indonesia, tapi rasa penasaran karena ditolak di phase interview kemarin membawa
saya akhirnya mencoba lagi mendaftar dua kali di tahun 2016 (Fall dan Spring
2017). Alhamdulillah dua-duanya tidak ada yang diterima bahkan tidak sampai
tahap interview :’)
![]() |
Rejection (2) |
Waktu itu, kalau dapat email dengan subjek
“The Final Selection Process of the YSEALI Academic Institute”, pasti langsung
saya skimming cepat kebawah dan cari kata-kata ‘we regret to inform you’ atau ‘we
unable to include you’ dan diksi diksi rejection lainnya karena sudah tau akhirnya
belum juga lolos. Udah bosan belum bacanya? Lanjut lagi di tahun 2017, rasanya sudah
agak kebal dengan penolakan, tapi masih belum bisa menyerah. Saya coba lagi mendaftar
di dua batch berikutnya dengan hasil yang masih sama: kamu belum lolos, Aulia! Yang
terakhir sebenarnya saya dapat kesempatan interview dengan tim U.S Embassy di
Surabaya via skype dan tetap saja ujung-ujungnya dapat hasil yang bernada sama
dengan tahun-tahun sebelumnya, alias failed! Padahal waktu itu saya sudah
dibantu beberapa alumni (thanks kak Aprisal dan kak Reno) untuk review personal
statement saya dan belajar juga bagaimana menjawab pertanyaan interview dengan
baik.
Hampir menyerah, tahun 2018 saat ada
pengumuman open application untuk Fall 2019, sempat kepikiran untuk tidak mencoba
lagi. Sampai akhirnya saya bilang kediri sendiri “nothing to lose lah yi, ga
rugi juga daftar lagi” padahal waktu itu umur saya sudah diambang batas
persyaratan, artinya kalau yang ini gagal, next batch udah ga eligible lagi
untuk daftar wkwkw
Dan akhirnya
saya beranikan diri daftar lagi untuk ke enam kali nya, kali ini saya
menceritakan pengalaman saya di Instellar dimana saya berkesempatan kerja
bareng social enterprise founders yang membawa impact positif untuk Indonesia.
Disitu saya cerita kalau saya ingin belajar bagaimana ekosistem social
enterprise di US dan tertarik untuk exchange ideas tentang konsep social
entrepreneurship yang saya pelajari di Instellar. Dilengkapi dengan surat rekomendasi
dari atasan (oh ya, ini penting untuk minta izin ke boss kalian sebelum
mendaftar program ini, karena durasinya cukup lama, sebulan lebih yang butuh diskusi
dengan atasan) dan untungnya punya atasan yang sangat supportive dengan
staffnya.
Alhamdulillah,
24 Mei 2019 saya mendapat email undangan untuk interview (lagi) dan dijadwalkan
interview pas banget setelah lebaran, yang artinya saya masih di kampung
halaman. Untungnya ada kanda Ficky yang baik hati meminjamkan kantor (dan wifi
nya!) untuk interview skype. Waktu itu saya di-interview oleh dua orang, durasiya
kurang lebih 15 menit, dengan pertanyaan tidak jauh dari apa yang saya tulis di
application form (yang kini sudah lebih simple karena cukup isi google form), dan
karena dapat copy-an nya ke email jadi saya bisa prepare dan baca-baca lagi
kalau lupa.
Fast forward
ke masa-masa penantian pengumuman dan kembali lagi ke Jakarta dengan rutinitas kerjaan
seperti semula. Jujur waktu itu ekspektasi saya tidak begitu tinggi mengingat
kegagalan-kegagalan sebelumnya, tapi harapan itu masih ada. Sampai akhirnya
suatu pagi di awal bulan Juli, dua panggilan tidak terjawab dari nomor yang angka
depannya +621 cukup membuat ambyar pagi itu. Untungnya dengan bantuan aplikasi get
contact dan ketauan kalau itu nomor US Embassy Jakarta. Duh! Beberapa hari setelahnya
tidak ada lagi panggilan dari nomor tersebut, sempat saya coba telepon balik juga
tidak bisa tersambung. Sampai akhirnya pasrah, menenangkan hati dan semangatin
diri kalau memang belum rezeki. Tanggal 10 Juli, sekitar jam 2 siang, HP saya
berdering. Ada telpon masuk dari nomor yang sempat nelpon kemarin, suara perempuan
memperkenalkan dirinya dan mengabarkan kalau saya keterima sebagai
salah satu awardee YSEALI Academic Fellowship Fall 2019!
Alhamdulillah.
Alhamdulillah bini’matihi tatimmus shalihah.
Kata mbaknya, belum jelas apakah saya akan ditempatkan di UConn (University of
Connecticut) atau di Brown University, 2 kampus yang akan menjadi host untuk
tema Social Entrepreneurship and Economic Development ini. Waktu itu saya cuma
bisa bersyukur atas kesempatan yang diberikan, dan sampai sekarang momen itu sulit
untuk dilupakan. Bafi saya ini adalah salah satu bukti pentingnya persistensi,
dan jadi pelajaran bahwa selama kita tidak berhenti mencoba, jalan itu pasti
dan tetap ada.
Di kampus
manakah nantinya saya ditempatkan? Insha Allah nanti kita lanjutkan ditulisan
berikutnya.
Komentar
Posting Komentar