Sekolah Musim Panas di kota Split

Di awal musim panas di bulan Juli ini, saya berkesempatan mengikuti summer school di salah kota yang namanya cukup unik: Split, di Kroasia. Sebuah kota Mediterania yang begitu memesona dengan sejarah, laut biru jernih, dan udara yang lebih hangat khas musim panas. Karena cuaca di Bukares memang sedang panas-panasnya, bahkan bisa sampai 40 derajat, pergi dari kota ini sejenak sepertinya adalah keputusan yang tepat, dan menuju di Split dengan udara yang terasa lebih segar, dengan angin laut yang membawa aroma garam dan kebebasan. Sepertinya ini adalah pengalaman pertama saya ikut program summer school seperti ini. Tema sekolahnya pun masih berkaitan dengan topik PhD saya yaitu informality. Kebanyakan yang ikut program ini pun juga adalah rekan-rekan satu konsorsium di PRESILIENT. Jadwalnya lumayan padat, dari tanggal 1 sampai 5 Juli dan kelasnya dari pagi sampai sore hari.

First arrive while sunset

Salah satu pengalaman paling berkesan di Split adalah mendaki Marjan Peaks, bukit hijau yang unik di tengah kota, meskipun namanya mirip dengan brand sirup di Indonesia hehe. Dengan jalur hiking yang dikelilingi pohon pinus dan pemandangan menghadap Laut Adriatik, ini adalah tempat sempurna untuk melihat kota Split dari atas. Sore itu setelah sesi metodologi kuantitatif yang menguras otak, saya bersama seorang teman 'melarikan diri', refreshing ourselves dengan berjalan kaki ke Marjan. Dari puncaknya, kota Split terlihat begitu indah—atap merah khas Mediterania, air laut yang berkilauan di bawah sinar matahari, dan kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan. Di sini, di tengah suara burung camar dan hembusan angin pantai, saya menemukan momen tenang yang mahal.


View from Marjan

Tentunya, selama di Split kami habiskan waktu untuk berenang! Karena pantainya yang masya Allah indah sekali dan sangat menggoda untuk dinikmati. Meskipun airnya agak dingin, kami hampir setiap hari, setelah sesi yang intens di kelas, jalan kaki menuju pantai berbatu yang hanya berjarak beberapa menit dari kampus. Tidak ada pasir putih di sini, tetapi batu-batu besar menjadi tempat duduk alami untuk menikmati matahari terbenam. Percakapan tentang ekonomi, aktivisme, dan penelitian sering berlanjut di tepi laut, sambil menikmati semilir angin dan suara ombak yang menenangkan.


Salah satu pantai di Split

Di sela-sela sesi, saya juga menyempatkan diri menjelajahi gang-gang sempit kota tua, mengagumi arsitektur kuno yang masih berdiri kokoh, dan membayangkan bagaimana kehidupan di kota ini berabad-abad yang lalu. Ini menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan selalu berkembang, tetapi ada banyak hal dari masa lalu yang tetap relevan hingga hari ini. Saya juga terkagum dengan banyaknya kucing yang berkeliaran di sudut-sudut kota ini.

Kucing yang bisa ditemukan di mana-mana~


Setelah ini, another journey will come, to starting my (first) fieldwork in Indonesia. Perjalanan yang sama, kembali ke rumah seperti di bulan April kemarin. Another story to be written in this blog, in sya Allah.

"Di satu titik, saya berada di ruang kelas ber-AC di Split, berdiskusi tentang teori ekonomi dengan akademisi dari berbagai negara. Beberapa minggu kemudian, saya duduk di sebuah warung kopi sederhana di Indonesia, mendengarkan cerita langsung dari pemulung dan pelapak tentang bagaimana teori itu diterjemahkan ke dalam kehidupan mereka. Dua dunia yang berbeda, tetapi keduanya mengajarkan saya hal yang sama: ilmu harus dipahami bukan hanya di buku, tetapi juga di lapangan."

Komentar

Postingan Populer